Jarang Orang Tahu, Surat Sultan Abdul Hamid kepada Syekh Mahmud Abu Syamat
Setelah 600 tahun berkuasa, pada 1924 kekhalifahan Utsmaniyah akhirnya runtuh dan digantikan dengan nama Republik Turki. Sultan Abdul Hamid II, sebagai salah satu khalifah terakhir, harus bersedih hati atas apa yang telah menimpa warisan para pendahulunya.
Bukan sebuah istana yang megah atau kerajaan yang luas, tetapi kewibawaan Islam yang runtuh dan jatuh oleh orang-orang Islam itu sendiri, karena telah tercemar paham nasionalisme yang berdampak pada perpecahan di antara daerah-daerah kekuasaan Kekhalifahan Utsmaniyah.
Sultan Abdul Hamid II pun akhirnya diasingkan ke Istana Alatini, sebuah istana milik seorang Yahudi bernama Salatini di Salonika.
Pada masa pengasingannya itu, beliau dijaga oleh salah seorang murid dari Syekh Mahmud Abu Syamat, dan Sultan Abdul Hamid juga merupakan murid dari Syekh tersebut.
Syekh Mahmud Abu Syamat adalah seorang guru besar dalam thariqah Syadziliyah yang tinggal di Damaskus, Suriah. Pada waktu-waktu tertentu, beliau datang berkunjung ke Istanbul dan bertemu Sultan Abdul Hamid II.
Seketika, Sultan Abdul Hamid II langsung terpukau dengan keistimewaan Syekh Mahmud Abu Syamat dan menjadi muridnya. Langkah ini konon langsung diikuti oleh seluruh pejabat dan masyarakat Istanbul.
Suatu ketika, Sultan ingin berkirim surat kepada gurunya, Syekh Mahmud Abu Syamat, di Damaskus, lalu beliau meminta penjaganya untuk membantu mengirimkan surat tersebut.
Dalam surat itu, Sultan Abdul Hamid II menulis:
Ya Huwa,
“Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah, dan salam sejahtera kami panjatkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, segenap keluarganya, dan para sahabat sekalian hingga Hari Pengadilan.
“Saya tulis surat ini kepada yang mulia Syeikh Tharikat abad ini, Ali Sadzaly, cahaya Ruh dan kehidupan ‘Syeikh Mahmud Effendy Abu Syamat’. Kami akan menyambut uluran kedua tangan beliau yang mulia, dengan mengharapkan doa restu beliau.
“Setelah menghaturkan rasa hormat, perlu saya sampaikan bahwa surat Anda tanggal 22 Mei tahun ini telah saya terima dengan selamat. Alhamdulillah saya ucapkan, bahwa Anda dalam keadaan sehat walafiat.
“Tuanku yang mulia, dengan taufik dan hidayah Allah ta’ala, saya bisa melakukan amalan wirid Tharikat Sadzaly siang dan malam. Saya perlu menyampaikan bahwa hingga saat ini saya terus membutuhkan panggilan batin Anda.
“Selain itu, ada masalah yang perlu saya sampaikan kepada Anda dan orang yang bisa diajak berpikir seperti Anda, berkenaan dengan masalah yang sangat penting berikut ini, sebagai amanat perjalanan sejarah.
“Saya meninggalkan kekhalifahan bukan karena suatu sebab tertentu, melainkan karena adanya tipu daya dengan berbagai ancaman dari tokoh-tokoh Organisasi Persatuan yang dikenal dengan sebutan “Jön Türkler,” sehingga terpaksa saya meninggalkan kekhalifahan itu.
“Sebelumnya, organisasi ini telah mendesak saya berulang-ulang agar saya menyetujui dibentuknya sebuah negeri nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina. Saya tetap tidak menyetujui permohonan berulang-ulang yang memalukan itu.
“Saya tidak akan mencoreng lembaran sejarah Islam yang telah lama dirintis oleh nenek moyang saya, para Sultan dan khalifah kerajaan Turki Utsmani.
“Sekali lagi, saya tidak akan menerima tawaran kalian. Setelah mendengar dan mengetahui sikap dan jawaban saya itu, mereka dengan kekuatan rahasia yang mereka miliki memaksa saya menanggalkan kekhalifahan, dan mengancam akan mengasingkan saya di Salonika.
“Maka terpaksa saya menerima keputusan itu daripada menyetujui permintaan mereka. Saya masih bersyukur kepada Allah, karena saya menolak untuk mencoreng kerajaan Islam Turki, dan dunia Islam pada umumnya dengan noda abadi yang diakibatkan oleh berdirinya negeri Yahudi di tanah Palestina.
“Biarlah semua berlalu. Saya tidak bosan mengulang-ulang rasa syukur kepada Allah ta’ala, yang telah menyelamatkan kita dari aib besar itu.
“Saya rasa cukup di sini apa yang perlu saya sampaikan, dan sudilah Anda serta segenap ikhwan menerima salam hormat saya.
“Guruku yang mulia, mungkin sudah terlalu banyak yang saya sampaikan. Harapan saya, Anda beserta jamaah yang Anda bina bisa memaklumi semua itu.”
“Wassalamu’alaikum wr. wb.
22 September 1909.
Ya Huwa, dalam surat tersebut ditujukan kepada Allah Ta’ala, karena cara panggilan itu adalah sebuah budaya dalam Thariqah Syadziliyah.
Sedangkan nama Jön Türkler kadang juga disebut sebagai Organisasi Turki Muda dan dalam bahasa Francis disebut sebagai Les Jeunes Turcs. Mereka memiliki jaringan bawah tanah yang luas dan terorganisir dengan baik.
Mereka juga memiliki hubungan kerja sama dengan organisasi Yahudi Zionis Internasional dan kelal akan membentuk sebuah komite yang bernama Committee of Union and Progress (CUP) atau Komite Persatuan dan Kemajuan dan menjadi partai politik bernama İttihad ve Terakki Fırkası atau Partai Persatuan dan Kemajuan.
Dari surat tersebut, kita dapat melihat betapa sedihnya beliau atas jatuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah dan kekhawatiran beliau akan masa depan wibawa agama Islam ini.
Akan tetapi, beliau tetap bersyukur karena beliau sudah berusaha sebisa mungkin, bahkan sampai merelakan dirinya dikudeta dan diasingkan untuk mempertahankan tanah Palestina.
Ini menunjukkan betapa penting dan berartinya Palestina untuk Kekhalifahan, Islam, dan para Muslimin.
Kita bisa lebih menghayati dan meresapi hikmah dan teladan kecintaan Sultan Abdul Hamid II kepada Palestina jika kita pergi ke Turki. Faktanya sekarang pergi dan kuliah di Turki bukan lagi sekedar mimpi.
Bagi kalian yang tertarik untuk melanjutkan studi di Turki, ada banyak program yang bisa diikuti, salah satunya adalah program Studies in Turkey yang diselenggarakan di Instagram @studiesinturkey.id.
Di sana, kalian bisa mengikuti webinar tentang kuliah di Turki, dan bahkan ada program asrama Sulaimaniyah yang akan membantu kalian memahami lebih dalam mengenai budaya dan bahasa Turki.









