Mengenal Sultan Murad III, Sultan Yang Diremehkan Sejarah

Banyak sejarawan mengatakan Sultan Murad III adalah Sultan yang banyak dipengaruhi oleh para wanita di dalam haremnya. Namun, perlu diketahui bahwa beliau berhasil mempertahankan masa kegemilangan Daulah Utsmaniyah agar tetap menjadi negara yang disegani dan adi daya di daratan eropa.

Sultan Murad III adalah penguasa Daulah Utsmaniyah yang naik tahta pada tahun 1574, tepatnya saat berusia 29 tahun, anak dari Sultan Selim II dan cucu dari Sultan Sulaiman I. Selama masa menjabat kakeknya, Murad III sudah menjadi gubernur di Aksehir dan ketika ayahnya yang menjabat sebagai Sultan, dia dipindah tugaskan menjadi Gubernur Manisa.

Masa kecilnya penuh dengan perhatian dan pengawasan akan pendidikannya. Guru yang dilipilih untuknya adalah seorang ulama cerdas dan sejarawan yang terkenal bernama Sadeddin Effendi.

Selama masa menjadi pangeran pun ia sudah dikenal sebagai pribadi yang cerdas, tampan, dan baik hati. Dia juga dikenal sebagai sosok yang religius kepada agamanya dan kehidupannya sehari hari.

Perang Sengit Melawan Portugal

Saat menjabat, ia sangat dibantu oleh saudara iparnya yaitu Sokollu Mehmed Pasha yang menjabat sebagai Wazir Agung. Langkah strategis yang beliau lakukan adalah memerangi portugal yang sudah lama mengganggu di perairan Samudra Hindia.

Dengan memanfaatkan koneksi dan internvesi protugal di tanah Maroko, beliau pun mengajak Sultan Maroko untuk sama-sama memerangi Portugal. Perang Utsmaniyah melawan Portugal ini dikenal dengan nama Pertempuran Tiga Raja atau Pertempuran Wadi Al-Makhzaim.

Selain itu Gubernur Aljazair, Ramazan Pasha ikut berperang melawan Portugal dengan 20.000 pasukan, sedangkan dari pihak Portugal ada sekitar 80.000. Perang pun dimenangkan oleh pihak Ramaan Pasha dengan sekitar 20.000 pasukan Portugal terbunuh dan sisanya luka-luka. Ada yang ditawan dan ada yang pergi melarikan dirik dari medan perang.

Akhirnya Portugal pun hilang dari peta dan panggung sejarah, lalu digantikan total oleh Spanyol. Tapi tidak lama berselang, para kelompok nasionalis yang ingin negara muncul kembali pun bangkit, mengingat Daulah Utsmaniyah juga memiliki permusuhan dengan Spanyol akhirnya Sultan mendukung para nasionalis tersebut dan Negara Portugal pun muncul kembali setelah 60 tahun kemudian.

Venesia dan Kekuatan Utsmaniyah

Hubungan antara Kekaisaran Utsmaniyah dan kota Venesia awalnya sangat baik. Bahkan, istri Sultan bernama Safiye berasal dari keluarga penting di Venesia, keluarga Baffas. Safiye kecil dulu pernah ditawan, lalu dibesarkan sebagai seorang Muslim di istana Utsmaniyah.

Namun, suatu hari, ada kapal yang membawa keluarga dan harta benda milik seorang gubernur dari Aljazair yang sudah meninggal. Kapal itu sedang dalam perjalanan ke Istanbul, tapi malah diserang oleh perompak dari Venesia. Sayangnya, semua orang di kapal dibunuh, tidak ada satu pun yang selamat.

Kejadian ini membuat orang-orang di Istanbul sangat marah. Mereka menuntut Venesia untuk bertanggung jawab. Karena takut terjadi perang, pemerintah Venesia buru-buru menangkap para perompak dan menghukum mati mereka di depan utusan Kekaisaran Utsmaniyah. Selain itu, mereka juga mengganti semua kerugian. Karena itu, perang besar yang bisa membuat Venesia kehilangan pulau penting bernama Kreta berhasil dicegah.

Pada tahun 1577, Polandia dan Lithuania — yang saat itu lebih kuat daripada Rusia — menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Utsmaniyah. Ini membuat pengaruh Utsmaniyah sampai ke Laut Baltik di utara. Negara-negara ini harus membayar pajak kepada Sultan, dan penguasa mereka hanya bisa naik tahta jika disetujui oleh Istanbul.

Mereka juga harus mengikuti kebijakan luar negeri sesuai perintah dari Istanbul. Maroko dan Polandia sempat menjadi bagian dari kekuasaan Utsmaniyah selama 50 tahun, menunjukkan betapa besarnya kekuatan Utsmaniyah saat itu.

Di tahun yang sama, pasukan Utsmaniyah juga pergi ke wilayah Georgia yang sedang diserang oleh Iran. Seorang jenderal bernama Özdemiroğlu Osman Pasha memimpin pasukan dan berhasil mengalahkan musuh dalam pertempuran malam hari yang diterangi obor—karena itu disebut Pertempuran Obor.

Setelah menang, wilayah Georgia, Kaukasus, dan Dagestan pun menjadi bagian dari Kekaisaran Utsmaniyah. Bahkan mereka membangun galangan kapal di Laut Kaspia. Karena keberaniannya, Sultan Murad III memanggil Osman Pasha ke istana dan memberinya pujian tinggi.

Inggris Berterima Kasih dan Sejarah yang Tersembunyi

Selama berperang dengan Iran, Utsmaniyah mengalami masalah finansial yang cukup mengganggu. Kasus paling parahnya adalah gaji untuk para tentara menurun sehingga Janissari pun mulai memberontak kembali pada tahun 1589 dan bahkan sampai menyerang istana.

Tidak butuh waktu lama, pemberontakan Janissari ini berhasil diredam, akan tetapi untuk pertama kalinya orang-orang militer Janissari masuk ke dalam posisi-posisi administrasi negara.

Periode ini beriringan dengan hungan dagang yang erat antara Inggris dan Utsmaniyah sampai-sampai London mengirimkan duta besar tetap pertamanya ke Istanbul yang bernama William Harborne.

Tetapi, duta besar ini tidak hanya datang untuk membahas soal perdagangan antar kedua negara. Tetapi juga menyampaikan surat dari Ratu Elizabetn I yang isinya adalah tentang menjalin persahabatan antar kedua negara, Sultan, para pejabat, dan istri sultan. Dalam surat itu juga, Ratu Elizabeth I menyatakan bahwa mereka memiliki kemiripan dalam hal agama yaitu sama-sama tidak menyembah berhala seperti penganut kristen katolik.

Selain itu juga Ratu meminta kemurahan hati Sultan untuk memberikan bantuan armada laut Ustamniyah untuk melawan armada laut Spanyol. Sultan Murad III pun menyanggupi dan memberikan 60-70 kapal galai dengan syarat pihak inggris yang akan menanggung biaya oprasionalnya.

Sultan Murad III juga mengatakan: “Ratu Inggris akan diperlakukan sama seperti mereka yang pernah menjadi teman Sultan Utsmaniyah di masa lalu yang dilindungi.”

Tahun 1587, berkan gerakan dan serangan armada laut Utsmaniyah, akhirnya kerajaan Spanyol tidak lagi bisa menganggu kedaulatan Inggris dan juga berdampak pada keamanan negara sekutunya seperti Perancis dan Belanda.

Namun seperti nya fakta ini tidak diketahui oleh kebanyakan orang inggris, terbukti dari apa yang ditulis oleh majalah terkenal inggris, The Guardian yang menerbitkan satu artikel berjudul, Why we must thank the Turks, not Drake, for defeating the Armada yang terbit pada tahun 2004.

Di artikel tersebut dijelaskan bahwa banyak warga inggris lebih mengenal kisah Sir Francis Drake yang mengalahkan kapal-kapal musuh hanya dengan beberapa perahu dayung yang dibakar dan bantuan angin yang menguntungkan.

Fakta sejarah ini baru mulai muncul di kalangan warga Inggris saat sebuah sesi di Festival Sastra Guardian Hay, Jerry Brotton, dosen di Royal Holloway College, London, mengungkapkan sebuah temuan menarik yang selama ini luput dari perhatian. Ia merujuk pada sebuah surat lama yang ditulis oleh Sir Francis Walsingham—kepala keamanan dan pemimpin jaringan mata-mata Ratu Elizabeth I—kepada duta besar Inggris di Istanbul.

Dalam surat itu, terungkap bahwa justru pergerakan strategis armada laut Utsmaniyah-lah, bukan keberanian Sir Francis Drake seperti yang selama ini banyak diyakini, yang menjadi faktor penentu dalam menggagalkan invasi besar-besaran Spanyol ke Inggris.Jerry Brotton mengatakan: “Rencana Walsingham (kepala mata-mata inggris) pada akhirnya berhasil. Gerakan armada Utsmaniyah di Mediterania Timur berhasil memecah kekuatan Armada Raja Philip II secara fatal. Jadi, di samping semua cerita yang biasa diajarkan di sekolah tentang mengapa Armada Spanyol gagal menaklukkan Inggris dan menghancurkan Protestanisme, kita seharusnya menambahkan satu alasan lagi: aliansi Inggris-Utsmaniyah yang dijalin oleh Elizabeth, Walsingham, dan lainnya.”

Kekalahan Karena Kelalaian Dalam Perang

Pada tahun 1592, seorang gubernur Bosnia berhasil melewati perbatasan Austria dengan mengalahkan Ferenc Nadasdy yang merupakan salah seorang prajurit tangguh dan pahlawan kebanggaan Hungaria dengan julukan Black Hero of Hungary.

Mendengar kekalahaan itu Kaisar Romawi Suci, Rudofl II merasa terancam. Untuk menggalang simpatisme rakyatnya dia menggagas yang namanya Bel Turki yang digantung di greja-greja. Setiap kali bel tersebut berbunyi yaitu pada pagi, siang, dan sore hari maka orang-orang akan datang dan berdoa semoga Turki cepat hancur.

Akhirnya perang pun pecah dan diakibatkan kesalahan kesalahan komandan Utsmaniyah. Memanfaatkan kesempatan ini, voivoda dari Erdel (Transylvania), Eflak (Wallachia), dan Boğdan (Moldavia) memberontak.

Kecintaannya Pada Agama dan Tunduknya Shah Iran

Sultan Murad III adalah seorang sultan yang sangat mencintai agama Islam. Ia suka berdoa, membaca kitab suci, dan memperingati hari-hari penting dalam agama. Pada tahun 1588, ia memerintahkan agar menara-menara masjid dihias dengan lampu-lampu minyak yang disebut kandil, terutama saat umat Islam merayakan hari lahir Nabi Muhammad, yang disebut Mawlid al-Nabawi.

Ia juga ingin malam-malam suci seperti Laylat al-Barat (malam pengampunan) dan Laylat al-Raghaib (malam penuh berkah) terasa lebih istimewa. Maka ia memerintahkan agar lampu-lampu dinyalakan dan masjid-masjid dihias indah, supaya umat Islam merasa lebih semangat untuk beribadah.

Sultan Murad III juga belajar dari para guru agama. Awalnya ia belajar dari Syekh Hüsameddin, lalu ia berguru kepada Syekh Ahmed Sadik, seorang pemimpin agama dari negeri jauh bernama Transoxiana. Sultan sangat menghormati para guru agama dan senang berdiskusi tentang ilmu agama dengan mereka.

Sultan Murad III adalah salah satu sultan dari Kerajaan Utsmaniyah yang sangat pintar, terutama dalam ilmu agama. Ia bahkan menulis buku agama berjudul “Futuhat-ı Siyam.” Selain itu, ia juga suka menulis puisi dan punya nama samaran sebagai penyair, yaitu Muradi. Ia menulis banyak puisi, yang dikumpulkan dalam empat buku. Dua bukunya ditulis dalam bahasa Turki, satu dalam bahasa Arab, dan satu lagi dalam bahasa Persia.

Sultan Murad III juga sangat menyukai seni, seperti melukis dan menulis indah (kaligrafi). Ia sering mendukung para seniman supaya mereka bisa terus berkarya. Ia bahkan sendiri pandai dalam seni kaligrafi.

Pada tahun 1587, Sultan Murad III mengeluarkan aturan penting. Aturan ini memperbolehkan buku-buku berbahasa Arab, Persia, dan Turki yang dicetak di Eropa untuk dijual di wilayah Utsmaniyah. Pada masa pemerintahannya, banyak tokoh hebat masih hidup, dan juga ada yang wafat. Ini adalah masa yang luar biasa karena banyak sekali orang hebat, seperti tentara, pejabat kerajaan, arsitek, orang pintar, penyair, dan musisi.

Sultan Murad III juga sangat suka membangun bangunan untuk kebaikan orang banyak. Ia menyuruh arsitek istana terkenal bernama Mimar Sinan untuk membangun Kompleks Muradiye antara tahun 1586 sampai 1592. Di kompleks ini ada masjid, sekolah, rumah sakit, dan dapur umum untuk orang-orang yang membutuhkan.

Ia juga membuat dinding Ka’bah dilapisi marmer dan membersihkan saluran air di tempat tinggal ratu (harem). Di kota suci Mekkah dan Madinah, ia membangun banyak sekolah, tempat ibadah, dan dapur umum besar. Ia bahkan mengirimkan mimbar dari marmer (tempat khotbah) ke Masjid Nabawi di Madinah pada tahun 1591.

Sultan Murad III juga membangun masjid di beberapa tempat, seperti Masjid Kastil Modon dan Masjid Navarino di wilayah Peloponnese. Di Masjid Hagia Sophia, ada beberapa bagian seperti mimbar, podium, tempat khusus untuk muazin, dan air mancur yang merupakan peninggalan dari perintahnya. Ia juga mengubah sebuah gereja yang bernama Pammakaristos menjadi Masjid Fethiye di Istanbul.

Selain itu, ia juga membangun Makam dan Sekolah Yahya Efendi di daerah Beşiktaş, Istanbul. Di masa pemerintahannya, bagian harem (tempat tinggal para wanita keluarga sultan) di Istana Topkapı juga dibangun.

Tapi tidak hanya soal ibadah, pengetahuan, dan pembangunan, Sultan Murad III juga berusaha keras menjaga perdamaian di antara umat Islam. Saat itu, ada pertengkaran antara kelompok Muslim yang berbeda paham, terutama antara umat Sunni dan Syiah, terutama di wilayah Iran. Sultan ingin umat Islam saling menghormati, bukan bertengkar.

Ia pun mengajak pemimpin Iran, yang disebut shah, untuk berdamai. Sultan meminta agar umat Sunni di Iran diperlakukan dengan baik dan tidak dihina. Shah Iran setuju dengan permintaan ini, dan bahkan saat Shah Abbas Agung ingin berdamai, ia menyebut dirinya sebagai pelayan Sultan Murad III. Ini menunjukkan betapa dihormatinya Sultan Murad III, bahkan oleh raja besar dari negara lain.

Pada masa itu, semua raja di Eropa pun mengakui bahwa Sultan Murad III adalah salah satu penguasa paling hebat di dunia. Bahkan negara yang sebelumnya tidak mau mengakui kehebatan Daulah Utsmaniyah, akhirnya mengakui bahwa mereka berada di bawah Sultan Murad III.

Kepribadian Sultan Murad III

Sultan Murad III dikenal sebagai seorang yang berpenampilan rapi dan menawan. Ia bertubuh sedang dan kurus, berwajah oval yang pucat, berhidung mancung, dan berambut cokelat. Alisnya hitam dan melengkung, mirip busur panah, dan janggutnya kemerahan namun tidak terlalu lebat. Karena penampilannya yang bersih dan anggun, banyak orang menyamakannya dengan kakeknya, Sultan Suleiman yang Agung.

Namun, yang membuatnya lebih dikenang adalah sifatnya yang lembut dan berhati baik. Sultan dikenal penyayang, adil, murah hati, dan ceria. Ia juga terkenal tidak suka berkata “tidak” jika ada orang yang memintanya sesuatu, selama hal itu bisa ia bantu.

Sultan Murad III juga sangat menyukai ilmu pengetahuan. Ia gemar membaca buku-buku sejarah, ilmu bintang (astronomi), dan geografi. Ia memerintahkan penerjemahan buku-buku dari Eropa, termasuk buku tentang penemuan benua Amerika oleh bangsa Spanyol. Ia bahkan mendirikan observatorium, tempat khusus untuk mempelajari langit dan bintang.

Selain itu, Sultan suka berkonsultasi dengan para ulama dan cendekiawan, dan ia juga sering menyamar dan berjalan-jalan di kota untuk melihat kehidupan rakyatnya secara langsung.

Beberapa sumber modern menyebutkan bahwa Sultan Murad III memiliki banyak istri, namun sesungguhnya ia hanya hidup bersama satu orang istri, yaitu Safiye Sultan, hingga usia 30 tahun. Sultan memiliki banyak anak, meskipun sebagian besar meninggal saat masih kecil. Salah satu anaknya, yaitu Şehzade Mehmed, akhirnya menjadi sultan berikutnya setelah beliau wafat.

Selera Humor Sang Sultan

Sultan Murad III juga dikenal gemar bercanda. Suatu hari, seorang pelaut terkenal bernama Kılıç Ali Pasha meminta izin untuk membangun sebuah masjid. Sultan, sambil berseloroh, berkata, “Karena engkau adalah penguasa lautan, maka bangunlah masjidmu di atas laut!”

Meskipun itu hanya candaan, Kılıç Ali Pasha benar-benar melakukannya! Ia menimbun sebagian laut di Istanbul dan membangun masjid serta kompleks di atasnya. Ketika mengetahui hal itu, Sultan bahkan mengirimkan pesan sambil tersenyum, “Aku hanya bercanda, ia boleh saja membangunnya di darat agar tidak repot.” Namun sang pelaut tetap menghormati ucapan sultan dan menyelesaikan bangunannya di atas laut.

Beberapa Kekurangan yang Patut Diakui

Pada masa pemerintahan Sultan Murad III, Daulah Utsmaniyah mencapai puncak kejayaannya. Namun, di balik kebesaran itu, mulai terlihat tanda-tanda kelemahan yang perlahan muncul.

Pada masa pemerintahan Sultan Murad III juga, Daulah Utsmaniyah mencapai wilayah terluasnya sepanjang sejarah. Ketika Sultan wafat, wilayah kekuasaan Utsmaniyah membentang sejauh 15 juta kilometer persegi. Wilayah tersebut mencakup 2 juta kilometer di Eropa, 4 juta di Asia, dan 9 juta di Afrika.

Seorang sejarawan dari Austria bernama Joseph von Hammer-Purgstall pernah menggambarkan besarnya Daulah ini. Ia mengatakan bahwa kekuasaan Sultan Murad III membentang dari Samudra Atlantik di barat, hingga ke Pegunungan Kaukasus di timur, dan dari pantai Sungai Danube di utara, sampai ke tanah Abyssinia (sekarang Ethiopia) di selatan. Semua wilayah itu dibagi menjadi 40 provinsi besar dan diatur dengan sistem pemerintahan yang tertib.

Salah satu tokoh penting pada masa itu adalah Sokollu Mehmed Pasha, seorang penasihat dan pemimpin yang sangat berpengaruh. Ia telah membantu tiga sultan berbeda dalam mengatur negara. Sayangnya, pada tahun 1579, ia dibunuh oleh seseorang yang tidak waras. Setelah kematiannya, suasana di istana berubah. Banyak orang di dalam istana justru merasa lega karena tidak ada lagi yang mengatur dengan sangat ketat.

Terlihat bagaimana pengaruh seorang Sokollu Mehmed Pasha pada masa pemerintahan Sultan Murad III. Dia yang dengan semangat dan kejujuran membantu setiap ursan negara Sultan tanpa maksud untuk menggerogoti atau pun untuk keuntungan pribadinya sendiri.

Dia juga terkenal tegas dan teliti dalam hal-hal kecil sekalipun selama itu mencakup urusan administrasi negara dan kebijakan-kebijakan lainnya serta kinerja para wazir atau pejabat dan staf lain.

Maka dapat dilihat ketika kematiannya, orang-orang yang sejalan dengan Sokollu Mehmed Pasha pasti akan merasakan kesedihan dan kehilangan seperti Sultan Murad III itu sendiri, tetapi untuk orang-orang yang menentang dan tidak suka dengannya, mereka akan sedang dan bahagia.

Setelah kematian Sokollu Mehmed Pasha, kestabilan istana mulai tidak baik. Sebagai contoh, pada tahun 1586, seorang pejabat tinggi bernama Mesih Mehmed Pasha mengajukan surat resmi (disebut tezkire) kepada Sultan Murad III untuk mengganti seorang kepala sekretaris kerajaan. Namun, permintaan itu ditolak oleh sultan, dan akhirnya Mesih Mehmed Pasha pun memilih untuk mundur dari jabatannya.

Walaupun setelah kematian Sokollu Pasha, Sultan Murad III masih memegang kekuasaan, ia tidak terlalu aktif mengatur pemerintahan. Karena itu, banyak keputusan penting malah ditentukan oleh orang-orang di sekelilingnya.

Hal ini membuat rakyat mulai menyalahkan sultan atas berbagai masalah yang muncul. Sampai muncul desas-desus bahwa Sultan Murad terlalu dipengaruhi oleh wanita-wanita di dalam istana, seperti ibunya, istrinya, dan para pelayannya. Karakter beliau yang lembut dan kadang ragu-ragu pun ikut menjadi alasan munculnya anggapan tersebut.

Menjelang akhir hidupnya, Sultan Murad III mulai sadar bahwa banyak orang di sekitarnya telah melakukan kesalahan. Ia pun memutuskan untuk menjauhkan mereka dari dirinya.

Selain itu, ada pergantian besar-besaran dalam pemerintahan. Para gubernur yang sebelumnya cerdas dan berpengalaman digantikan oleh pejabat-pejabat baru yang kurang berpengalaman dan sering berganti. Karena tidak ada tokoh hebat yang mampu memimpin dengan baik, maka jumlah orang-orang hebat di bidang militer dan pemerintahan mulai berkurang.

Saat itu juga muncul pemberontakan yang disebut pemberontakan Celali. Pemberontakan ini membuat keadaan di wilayah Anatolia menjadi kacau. Masyarakat kehilangan rasa aman, dan aktivitas seperti bertani, berdagang, dan membuat barang-barang jadi tidak berjalan seperti dulu. Akibatnya, uang yang masuk ke negara berkurang, dan keuangan negara mulai melemah.

Hal lain yang menjadi masalah besar adalah jumlah pasukan Janissari, yaitu pasukan elite kerajaan, yang bertambah sangat banyak—bahkan dua kali lipat, menjadi sekitar 26.000 orang. Dahulu, Janissari adalah pasukan yang sangat disiplin dan tinggal di barak-barak militer. Namun, sekarang mereka tidak lagi tertib, bahkan mulai terlibat dalam urusan politik di jalanan. Hal ini sangat merugikan untuk masa depan Daulah.

Banyak sejarawan menganggap bahwa tahun 1579, ketika Sokollu Mehmed Pasha meninggal, adalah awal dari masa kemunduran Daulah Utsmaniyah. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa kemunduran yang nyata dimulai ketika Sultan Murad III wafat.

Salah satu kebijakan yang kurang bijak dari Sultan Murad III juga memasukan orang yang tidak berkompeten ke dalam pasukan Janissari. Dikisahkan sekelompok seniman yang menunjukkan bakat besar pada upacara khitan Şehzade Mehmed pada tahun 1582, yang dianggap sebagai upacara paling megah dalam sejarah Turki,

Mereka meminta untuk direkrut ke dalam korps Janissary sebagai imbalan. Raja menerima tawaran ini. Dengan demikian, salah satu aturan dasar dalam korps Janissary dilanggar. Para sejarawan mencatat langkah ini sebagai kesalahan bagi Utsmaniyah.

Jumlah Janissar juga meningkat sebanyak 100% dan mencapai 26.000, dan korps Janissari memperoleh kepentingan lebih dibandingkan dengan kelas militer lainnya selama pemerintahan Sultan Murad III yang berlangsung selama 20 tahun.

Ini menjadi sangat merugikan bagi masa depan. Tentara yang dulu dilatih dan tinggal di barak kehilangan kualitas dan disiplin mereka, dan turun ke jalan untuk terlibat dalam politik sehingga menimbulkan kekacauan internal yang sulit untuk dikendalikan sampai akhirnya dibubarkan oleh Sultan Mahmud II.

Meninggalnya Sang Sultan

Selama perang melawan Kaisar Romawi Suci, Rudofl II. Sultan Murad III sudah di usia yang cukup tua dan lelah. Lalu saat Utsmaniyah kalah dalam perang, sang Sultan pun tutup usia.

Sebelum meninggal beliau melihat dengan mata kepalnya sendiri ketika kapal-kapal memasuki selat Bosporus dan dua Galai Mesir menembakkan meriam yang membuat jendela-jendela kediamannya yang juga berada di sekitar selat itu pecah. Sultan pun berkata: “Dulu, jika seluruh armada menembakkan meriam, kaca tidak akan pecah. Saya melihat bahwa kediaman hidup saya kini hancur”.

Ini mengindikasikan bahwa beliau tahu negaranya sudah mulai lememah dari segi militer, sehingga perlu diperkuat lagi baik dari angkatan darat atau pun laut. Tapi sebelum sempat memperbaiki dan memperkuat militernya beliau meinggal lebih dulu.