Mana yang Benar, Turkey atau Turkiye

Pada awal tahun 2023, dunia kembali dikejutkan oleh bencana alam dahsyat yang melanda kawasan perubahan nama resmi negara Turki menjadi dari Turkey menjadi Türkiye”.
Awal Perubahan Dari Turkey ke Turkiye
Perubahan ini secara resmi dimulai pada Juni 2022, saat Menteri Luar Negeri Türkiye, Mevlüt Çavuşoğlu, mengirimkan surat kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres.
Dalam surat itu, ia meminta agar nama resmi negara tersebut di semua urusan internasional diubah dari “Turkey” menjadi “Türkiye”.
Permintaan ini disambut dan disetujui oleh PBB.
Walau nama “Turkey” telah lama digunakan dalam bahasa Inggris, bentuk “Türkiye” sebenarnya sudah digunakan sejak berdirinya republik modern tersebut pada tahun 1923.
Upaya internasionalisasi nama asli dalam bahasa Turki mulai digencarkan pada 2021 sebagai bagian dari kampanye citra global.
Menurut Mevlüt Çavuşoğlu, tujuan perubahan ini adalah untuk meningkatkan nilai merek negara Türkiye di mata dunia.
Hal ini ditegaskan dalam salah satu unggahannya di media sosial.
Lebih dari sekadar branding, langkah ini juga bertujuan menghapus asosiasi negatif yang selama ini melekat pada kata “Turkey” dalam bahasa Inggris.
Asosiasi Nama dengan Hewan dan Arti Negatif
Dalam bahasa Inggris, kata “turkey” juga merujuk pada seekor burung besar, yang biasanya dikaitkan dengan makanan khas saat Hari Thanksgiving di Amerika Serikat.
Tak hanya itu, kamus Cambridge juga mencantumkan definisi informal “turkey” sebagai sesuatu yang gagal total atau seseorang yang bodoh.
Asosiasi semacam ini dinilai tidak mencerminkan identitas dan martabat bangsa Türkiye.
Lembaga penyiaran publik Türkiye berbahasa Inggris, TRT World, menyatakan bahwa pemakaian nama “Türkiye” secara internasional akan membantu menjauhkan negara tersebut dari konotasi negatif tersebut.
Negara tersebut tidak ingin identitas nasionalnya dikaburkan oleh kebetulan linguistik yang berakar dari kekeliruan berabad-abad lalu.
Turkiye Bukan Satu-satunya
Türkiye bukan negara pertama yang mengambil langkah ini.
Sejarah menunjukkan bahwa beberapa negara telah mengganti nama internasionalnya untuk alasan identitas, politik, maupun sejarah.
Pada tahun 1935, Persia secara resmi mengubah nama internasionalnya menjadi Iran.
Meski demikian, nama “Persian” masih digunakan untuk merujuk pada bahasa dan beberapa produk budaya seperti karpet atau makanan tradisional.
Contoh lainnya adalah Sri Lanka, yang sebelumnya dikenal dengan nama Ceylon.
Nama Ceylon digunakan secara resmi oleh Inggris saat menjajah pulau tersebut dari 1815 hingga 1948.
Baca juga : Mengenal Arti Kata Turki
Setelah menjadi republik pada 1972, nama Ceylon diganti menjadi Sri Lanka, yang berarti “pulau cemerlang” dalam bahasa Sinhala.
Meski nama resmi telah berubah, beberapa institusi dan produk, seperti teh Ceylon, masih menggunakan nama lama demi pengenalan merek global.
Ukraina dan Perubahan Makna Nama
Isu nama negara juga muncul dalam kasus Ukraina.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada awal 2022, masyarakat internasional mulai lebih cermat dalam menyebut negara tersebut.
Ungkapan “the Ukraine” dianggap merendahkan kedaulatan negara tersebut karena menunjukkan bahwa Ukraina adalah sebuah wilayah, bukan negara merdeka.
Penggunaan “Ukraine” tanpa awalan “the” kini dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap kedaulatan nasionalnya.
Endonim dan Eksonim, Apa Bedanya?
Amanda Hamilton-Hollaway, seorang dosen linguistik dari University of Western Australia, menjelaskan bahwa terdapat dua istilah linguistik penting dalam konteks penamaan negara: endonim dan eksonim.
Endonim adalah nama yang digunakan oleh penduduk suatu tempat untuk menyebut daerah mereka sendiri.
Sedangkan eksonim adalah nama yang digunakan oleh orang luar untuk menyebut tempat tersebut.
Contohnya, “España” adalah endonim, sedangkan “Spain” merupakan eksonim yang digunakan dalam bahasa Inggris.
Demikian pula, “Türkiye” adalah endonim, sedangkan “Turkey” merupakan eksonim.
Perbedaan ini sering kali disebabkan oleh perbedaan sistem bunyi dalam berbagai bahasa.
Misalnya, huruf “ü” pada Türkiye atau huruf “ñ” pada España tidak terdapat dalam sistem fonetik bahasa Inggris, sehingga terjadi adaptasi.
Fenomena Global Antara Bahasa dan Identitas
Amanda juga menyebut bahwa fenomena eksonim dan endonim tidak hanya terjadi dalam bahasa Inggris.
Dalam bahasa Prancis dan Spanyol, kota London disebut “Londres”.
Bahkan, dalam beberapa bahasa asli Australia, terdapat istilah yang digunakan untuk menyebut suatu tempat atau kelompok orang lain, yang berbeda dengan nama asli mereka sendiri.
Ia juga mencatat adanya tren global yang berkembang, yakni meningkatnya kesadaran terhadap sensitivitas budaya dan identitas nasional.
Hal ini tercermin dari semakin banyaknya orang yang berusaha mengucapkan nama seseorang atau suatu tempat sesuai dengan pelafalan aslinya.
Contohnya, banyak orang kini mulai mengucapkan nama-nama seperti “Beijing” atau “Qatar” sesuai dengan pengucapan lokal, bukan versi Barat yang lazim digunakan di masa lalu.
Perubahan ini mencerminkan keinginan untuk menunjukkan rasa hormat terhadap identitas dan budaya lokal.
Tantangan dan Masa Depan Penggunaan Nama Asli
Meskipun ada dorongan kuat untuk menggunakan nama asli suatu negara secara internasional. penerapannya tidak selalu berjalan mulus.
Dalam beberapa kasus, seperti Sri Lanka, perubahan resmi belum sepenuhnya diikuti oleh sektor bisnis atau publik internasional.
Banyak produk ekspor masih mempertahankan nama lama demi alasan pemasaran.
Namun, tren penggunaan endonim seperti Türkiye, Iran, atau Sri Lanka menunjukkan bahwa masyarakat dunia semakin peduli terhadap representasi yang akurat dan bermartabat bagi setiap bangsa.
Dalam era globalisasi dan komunikasi lintas budaya yang semakin intensif, penting bagi negara-negara untuk mengontrol narasi mengenai identitas mereka sendiri.
Perubahan nama negara dari “Turkey” menjadi “Türkiye” mencerminkan usaha serius suatu bangsa untuk memperkuat citra dan martabat nasionalnya di mata dunia.
Langkah ini bukan hanya soal linguistik, melainkan juga tentang identitas, sejarah, dan rasa hormat terhadap diri sendiri.
Sebagaimana yang ditunjukkan oleh contoh dari Iran, Sri Lanka, dan Ukraina, penamaan suatu negara membawa makna yang lebih dalam daripada sekadar istilah geografis.
Nama adalah cerminan harga diri, dan dunia mulai belajar untuk menghargainya.






