Tambahkan Teks Tajuk Anda Di Sini

Pada masa sekarang ini banyak sekali orang yang ingin menjadi kaya raya, memiliki banyak uang, dan aset-aset berharga. Mereka berpikir dengan menjadi kaya dan memiliki banyak harta bisa membeli apa saja dan kapan saja tanpa takut kehabisan uang.

Namun, fenomena yang unik akhir-akhir ini adalah bagaimana orang-orang ingin memperoleh uang tetapi tidak ingin menunggu lama dan bersabar. Mereka lebih ingin mendapatkan kekayaan dengan cara instan sambil berangan angan jika sudah memiliki banyak uang apa saja yang ingin dilakukan.

Hal ini terjadi karena budaya yang sudah menyebar di masyarakat. Dimana banyak orang-orang yang berhasil mendapatkan status sebagai orang kaya pada usia yang masih muda. Selain itu, banyak juga content creator yang meng-influence audiensnya bahwa menjadi kaya tidak perlu waktu lama.

Pada dasarnya memberitahu pada khalayak ramai mencapai status sosial sebagai orang yang memiliki banyak uang dan segudang pencapaian dalam waktu singkat atau pun usia muda tidaklah salah. Tetapi yang menjadi masalah adalah ketika hal itu menjadi standar baku dalam masyarakat sosial secara umum tanpa memandang faktor lain.

Tetapi, pernahkah kita berfikir bagaimana orang-orang yang memiliki banyak harta di masa Daulah Utsmaniyah mendapatkan kekayaannya. Selain itu, apa yang biasa mereka lakukan sebagai orang-orang yang memiliki status sosial tinggi dibanding masyarakat pada umumnya.

Nyatanya, orang-orang kaya pada masa itu rata-rata mendapatkan kekayaan dari hasil perdagangan mereka. Mereka bekerja keras dengan penuh kesabaran dalam mengumpulkan harta dan emas mereka.

Mereka adalah orang-orang yang rela bangun pagi dan pulang malam hari bahkan sesampai di rumah pun masih bekerja untuk kelancaran usaha mereka. Tidak ada kata santai dan malas dalam keseharian orang-orang kaya ketika itu.

Mereka juga biasa membawa koin-koin emas mereka dalam saku celana, pinggang dan baju untuk keperluan perniagaan yang mana itu hanya berlaku untuk mereka dan bukan selain mereka. Ini menunjukan status sosial yang berbeda diantara orang pada umumnya.

Akan tetapi, hal yang unik sekaligus pembeda orang kaya di Daulah Utsmaniyah dengan mereka di negara-negara lain adalah sebuah tradisi bahwa tangan dan rumah orang kaya di Daulah Utsmaniyah senantiasa terbuka untuk orang miskin.

Kebiasaan Orang Kaya Kala Itu

Ada tradisi bahwa dalam sebuah desa atau daerah orang-orang kaya disana senantiasa memelihara orang miskin yang ada disekitarnya, baik memberi makan atau pun pendidikan.

Bahkan sampai pada tahap, jika ada orang miskin ingin menikahkan anaknya maka orang kaya setempat lah yang membayarkan maharnya.

Sudah menjadi hal yang biasa juga di rumah-rumah orang kaya ada rumah sakit kecil untuk menampung orang-orang miskin yang sakit dan tidak bisa berobat ataupun membeli obat di rumah sakit yang besar.

Selain itu, rumah orang kaya pada saat itu juga biasanya memiliki dapur umum yang fungsinya untuk memasak makanan yang nanti akan dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan baik untuk orang miskin disekitar sana ataupun para musafir yang sedang dalam perjalanan,

Hebatnya lagi semua itu dilakukan dengan penuh kesadaran, kerelaan dan tanpa paksaan baik dari aspek sosial atau pun hukum yang mengikat.

Dari sini terlihat bagaimana orang kaya dalam Daulah Utsmaniyah membentuk sebuah hubungan baik walau ada perbedaan status antar orang-orang akan tetapi tidak ada pembatasan interaksi sosial dalam hubungan kemasyarakatan antara orang yang memiliki harta dan orang yang berkekurangan secara finansial.

Pelit Tidak Memandang Status Ekonomi

Dalam tradisi masyarakat Utsmaniyah, pelit bukanlah soal perkara memiliki atau tidak memiliki uang. Melainkan pada sifat individu itu sendiri.

Bagi mereka, tidak perlu menunggu kaya untuk memberi dan membantu dan tidak perlu menjadi miskin untuk menahan harta kekayaan yang dimiliki ketika dimintai bantuan.

Karena pada dasarnya, hati yang lapang tidak akan mencegah mereka untuk mengorbankan apa yang mereka punya, tetapi hati yang sempit dan gelisah hanya akan memberikan rasa takut kehilangan harta sehingga timbulah sifat pelit itu.

Dari prinsip inilah akhirnya menjalar di masyarakat dan menjadi tradisi dan mendarah daging di kalangan orang-orang kaya. Maka tidak heran orang kaya saat itu memang memiliki status sosial sendiri di mata masyarakat yang mengharuskan mereka beretika dan bersikap seperti orang-orang kelas atas akan tetapi tetap terbuka untuk orang miskin.

Bahkan sampai hal yang paling berbeda dari kebanyakan orang kaya di negara-negara lainnya adalah mereka di Daulah Utsmaniyah juga sudah biasa dalam meninggalkan harta warisan kepada anak-anaknya berupa dua rumah, yaitu rumah untuk musim panas dan rumah untuk musim dingin, sedangkan sisa semua hartanya akan diberikan untuk dampak sosial yang lebih positif lainnya.

Apakah anak-anak mereka terlantar karena hanya mendapat warisan berupa dua buah rumah, sayangnya tidak. Karena anak-anak orang kaya tidak hanya diajarkan cara mencari uang tetapi mental mereka sudah dibangun selama orang tua mereka masih hidup agar bekerja keras dan tidak banyak mengeluh.

Sehingga ketika orang tua mereka meniggal atau bahkan ketika masih hidup pun, mereka sudah tidak bergantung lagi pada harta warisan dan keluarga lainnya.

Sultan Mahmud II dan Syaikhul Islam

Hal yang menarik lainnya disebutkan dalam sejarah ketika Sultan Mahmud II ingin mengunjungi gurunya sekaligus penasihatnya Syaikhul Islam Durrizade di Uskudar tanpa memberitahu terlebih dahulu akan kedatangan beliau.

Ketika beliau sampai di depan rumah Syekhul Islam lalu mengucapkan salam sebagai tanda bahwa Sultan datang berkunjung. Syaikhul Islam dengan tenang mempersilahkan Sultan untuk masuk dan langsung menyiapkan jamuan yang amat mewah dan berkelas layaknya orang-orang kaya.

Mereka pun duduk bersama untuk menyantap jamuan tersebut. Tetapi Sultan terkejut dengan apa yang dilihatnya, beliau melihat ditengah jamuan yang mewah tersebut Syekhul Islam menggunakan sebuah mangkuk tua yang sudah retak untuk minum minuman kompot.

Syaikhul Islam yang sadar akan keterkejutan Sultan Mahmud II itu menjelaskan bahwa mangkuk tua ini sudah cukup untuknya dan kekayaan yang Allah limpahkan kepadanya adalah untuk orang-orang lain selain dirinya.

Memahami penjelasan itu, Sultan pun berkata: “Kekayaan memang cocok untuk Anda”

Dari sini bisa kita lihat, pelajari, resapi bahwa kedermawanan di hati orang kaya pada masa Daulah Utsmaniyah adalah hal yang sudah mendarah daging dan menjadi tradisi di atara mereka.

Menjadi sesuatu yang luar biasa jika kita bisa menirua perbuatan tersebut dan menyebarkannya di sekitar masyarakat kita.