Muhammad Adhwa Al-irsyad, Dari Brunei ke Pesantren, Lalu Turki

Menempuh pendidikan lintas negara bukan perkara mudah, apalagi ketika keputusan harus diambil di tengah perubahan sistem pendidikan yang berbeda, seperti Muhammad Adhwa Al-irsyad misalnya.
Muhammad Adhwa Al-irsyad bin Hj Didin Jamaludin, remaja asal Brunei Darussalam, harus melewati masa transisi yang tidak ringan dari sekolah menengah di Brunei, masuk pesantren di Indonesia, hingga akhirnya menargetkan kuliah Geofisika di Turki.
“Awalnya saya kira cuma ambil ujian akhir SMA saja, ternyata saya harus tinggal di pondok pesantren penuh waktu selama setahun,” ujar Adhwa sambil tertawa kecil, mengingat kembali langkah yang mengubah jalannya.
Berikut adalah petikan wawancara bersama Adhwa yang kini tengah bersiap untuk melanjutkan studi di luar negeri.
Pendidikan di Brunei: “Hanya sampai kelas 11, lalu harus cari jalur lain”
Adhwa memulai kisahnya dengan menyebutkan bahwa sistem pendidikan di Brunei berbeda dengan di Indonesia.
Ia menyelesaikan pendidikan hingga kelas 11 (setara kelas 2 SMA) di Maktab Sultan Omar Ali Saifuddien, sebuah sekolah yang dinamai dari tokoh kerajaan Brunei.
“SMP dan SMA disatukan jadi satu jalur lima tahun. Tapi kalau mau lanjut kelas 12, biasanya makan waktu dua tahun. Jadi saya cari alternatif lain,” jelasnya.
Awalnya ia berencana langsung kuliah di Indonesia, tapi terbentur regulasi yang mewajibkan kelulusan kelas 12.
Maka, ia pindah ke Indonesia untuk mengambil program muadalah—program penyetaraan ijazah dari Pesantren Sulaimaniyah agar bisa mendaftar ke universitas.
Kejutan di Pesantren: “Niatnya cuma ambil ujian, eh jadi santri setahun penuh”
Alih-alih menyelesaikan kelas 12 secara reguler, Adhwa akhirnya mengikuti program muadalah di Pesantren Sulaimaniyah, yang ternyata berbasis pesantren.
“Saya kira bakal kayak senior saya, datang ujian lalu pulang. Tapi pas datang, saya harus tinggal di asrama, ikut jadwal pesantren juga. Kaget sih,” ceritanya.
Meski sempat bingung, Adhwa menerima kenyataan tersebut demi bisa melanjutkan kuliah. Ia menyebut dukungan orang tua sebagai faktor penting.
Perbedaan Gaya Belajar: “Ada Perbedaan di Brunei sama disini jadi harus pembiasaan lagi”
Soal pembelajaran, Adhwa mengakui adanya perbedaan signifikan antara sekolah di Brunei dan pesantren.
“Di Brunei lebih fokus ke pelajaran umum, sedang di pesantren ada banyak pelajaran keislama juga, jadi harus pandai mengatur waktu dan mulai pembiasaan baru” ungkapnya.
Tapi dibalik tantangan itu, Adhwa menemukan sebuah jalan baru yaitu program bimbingan ujian TR-YOS, sebuah ujian untuk masuk perguruan tinggi di Turki.
TR-YOS: “Bikin belajar jadi jelas dan terarah”
Di tengah padanya kegiatan Pesantren, Adhwa mendapatkan fondasi kuat melalui program bimbingan TR-YOS yang diadakan oleh Studies In Turkiye, salah satu kepanjangan tangan dari Pesantren Sulaimaniyah.
Baca juga : Semua Tentang Ujian TR-YOS 2025
“Walau di Brunei diajarkan intensif soal matematika dan pelajaran lain, tp bimbingan TR-YOS dari Studies In Turkiye sangat membantu, ada silabus, latihan rutin, contoh soal.
Kalau belajar sendiri sering nggak jelas arahnya. Apalagi untuk Matematika,” ujarnya.
Pengalaman belajar di program persiapan TR-YOS Studies In Turkiye membuatnya merasa lebih siap dibanding teman-temannya.
Geofisika: “Gabungan Geografi dan Matematika, pas banget buat saya”
Meski sempat tertarik pada Geografi, Adhwa akhirnya memutuskan mengambil Geofisika sebagai jurusan yang dituju.
Alasannya sederhana: ia menyukai Matematika, dan Geofisika menurutnya adalah kombinasi dari keduanya.
“Geofisika itu belajar bumi dari sisi fisika. Misalnya, ngukur sesuatu yang berhubungan dengan bumi pakai alat-alat fisika.
Jadi bukan cuma teori geografi, tapi ada hitungannya juga,” jelasnya antusias.
Target Turki: “Bukan karena pengen banget, tapi karena jalurnya paling lancar”
Ketika ditanya kenapa memilih kuliah di Turki, jawabannya lugas.
“Sebenarnya bukan karena pengen banget sama Turkinya, tapi karena Pesantren Sulaimaniyah punya jaringan ke kampus di sana.
Jadi biar lebih mudah dan ini juga kesempatan untuk keluar negeri” katanya jujur.
Meski begitu, Adhwa tetap merasa Turki menarik, terutama karena latar belakang sejarah Islam yang kaya.
Tapi walau begitu, Adhwa pun mengakui adanya daya tarik lain untuk berkuliah di turki.
“Negaranya menarik, ada dua sisi budaya yang terasa di sana. Selain itu, sejarah Islam di Turki juga banyak dan kuat banget.
Jadi ya, kenapa enggak? Saya juga pengin bisa belajar langsung, ngerasain sendiri, dan melihat langsung tempat-tempat bersejarahnya.”
Pesan untuk Teman-Teman: “Jangan takut, cari informasi, dan terus coba”
Adhwa menutup wawancaranya dengan pesan bagi pelajar lain yang merasa ragu atau kurang percaya diri untuk kuliah ke luar negeri.
“Jangan takut dan jangan putus asa. Kadang kesempatan datang kalau kita berani ambil. Cari informasi, tanya orang yang lebih tahu, dan jangan ragu untuk coba,” ucapnya mantap.
Kini, dengan nilai ujian 289 dan paspor yang sudah siap, Adhwa hanya tinggal menunggu visa dan pengumuman dari kampus impiannya di Istanbul.
Langkahnya panjang dan tak selalu sesuai rencana, tapi seperti katanya sendiri: yang penting tetap berjalan.
Kini, Adhwa tinggal menghitung waktu. Visa sedang diproses, koper belum dikemas, tapi semangatnya sudah melampaui batas negara.
Di usia yang masih belia, ia telah melalui keputusan yang berat, adaptasi yang mendadak, dan jalan-jalan yang tidak selalu lurus.
Dari ruang kelas di Brunei ke kamar asrama pesantren, dari pelajaran Mingguan di pesantren ke latihan intensif TREOS, dari ragu di awal hingga akhirnya tahu ke mana kaki ini melangkah.
“Saya belum tahu pasti nanti kerja di mana, tapi langkah pertama sudah saya ambil. Itu yang penting.”
Dunia mungkin belum mengenal nama Adhwa Al-Irshad hari ini. Tapi seperti bumi yang ia ingin pelajari melalui Geofisika, arah geraknya sudah punya medan sendiri.
Dan seperti getaran di dalam tanah, langkah-langkah kecil itu—sekali pun tak terdengar—sedang mengguncang masa depan yang sedang menunggu.
Karena tidak semua perjalanan dimulai dari tempat yang sempurna. Tapi semua harapan dimulai dari keberanian untuk memilih jalan yang tidak semua orang berani tempuh.









