Sultan Mahmud II, Perjuangan Reformasi dan Segala Tantangannya

Mahmud II, yang lahir pada 20 Juli 1785 di Konstantinopel dan meninggal pada 1 Juli 1839 di tempat yang sama, adalah sultan ke-30 dari Kesultanan Utsmaniyah.
Pemerintahannya berlangsung dari tahun 1808 hingga kematiannya, dan ia dikenal sebagai sosok yang sangat penting dalam sejarah Kekaisaran Utsmaniyah karena kebijakan reformasi yang dilakukannya meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan besar.
Dalam artikel ini, kita akan mengulas lebih dalam tentang perjalanan hidup Mahmud II, reformasi yang ia lakukan, dan dampaknya terhadap masa depan Kesultanan Utsmaniyah.
Latar Belakang dan Kenaikan Takhta
Mahmud II naik takhta pada 28 Juli 1808 setelah melalui sebuah kudeta yang dipimpin oleh Bayrakdar Mustafa Paşa, seorang tokoh lokal dari Rusçuk (sekarang Ruse, Bulgaria).
Pada awalnya, Bayrakdar ingin mengembalikan pemerintahan Sultan Selim III, yang merupakan paman Mahmud II dan seorang sultan yang juga dikenal karena upayanya untuk melakukan reformasi di Kesultanan Utsmaniyah.
Namun, Selim III dibunuh oleh kelompok konservatif dalam pasukan Janissari yang tidak menyukai kebijakan reformasi tersebut.
Meskipun Mahmud II pada awalnya dipilih sebagai sultan untuk menggantikan pamannya, pemerintahannya tidak langsung berjalan mulus.
Pada hari-hari pertama pemerintahannya, kekuasaan politik berada di tangan Alemdar Mustafa Pasha, yang saat itu menjabat sebagai grand vizier.
Ayan Rumelia dan Anatolia, yang telah memenuhi Istanbul, memaksa Sultan Mahmud untuk membuat kesepakatan guna mengamankan kepentingan mereka. Pada tahun 1809, sebuah dokumen yang disebut Sened-i Ittifak (Piagam Persekutuan) ditandatangani.
Berdasarkan dokumen ini, yang disamakan dengan Magna Carta yang ditandatangani antara raja dan bangsawan di Inggris pada tahun 1215, sultan mengakui otoritas para ayan di tanah mereka sendiri, dan para ayan juga berjanji untuk setia kepada sultan.
Ketika merasa cukup kuat di masa depan, Sultan Mahmud akan membatalkan kesepakatan ini untuk kestabilan negara agar tidak terpecah belah.
Dimasanya juga Gaji para janissari yang masih dibayar meskipun mereka sudah meninggal dibatalkan. Langkah ini diambil karena kinerja Janissari yang sejak lama sudah mulai menurun dan kas negara yang makin hari kian menipis.
Namun, para Janissari tidak setuju dengan pemangkasan gaji mereka dan akhirnya mengajukan protes yang berujung pada desakan untuk Sultan Mahmud ii turun dari tahta dan ingin mengangkat kembali Sultan Musthafa IV.
Pada tahun 1808, pasukan Janissari pun melancarkan serangan. Alemdar Mustafa Pasha yang seorang Wazir Agung dan lingkaran dekat orang kepercayaan Sultan Mahmud II tewas dalam pemberontakan ini.
Maka Sultan pun mengambil langkah berat yaitu mengeksekusi pamannya Sultan Musthafa IV yang digadang-gadang oleh para Janissari untuk menggantikan beliau jika kudeta berhasil.
Dengan dieksekusinya Sultan Musthafa IV maka para Janissari sudah tidak meliki opsi lagi selain menerima Sultan Mahmud II sebagai Sultan mereka.
Namun, pemberontakan tidak berhenti sampai disitu, perlawanan masih terus berlanjut. Sekitar 3.000 pemberontak tewas, dan banyak bagian kota hancur. Oleh karena itu, Sultan Mahmud memberikan perhatian besar untuk menjaga sebagian besar pasukan di Rumelia dengan alasan perang.
Keadaan ini menyebabkan reformasi yang ingin dilakukan oleh Mahmud terhambat selama beberapa tahun, dan hanya dimulai pada awal 1820-an.
Namun, meskipun menghadapi perlawanan internal, Mahmud II terus berusaha memperkenalkan perubahan yang fundamental dalam struktur kekaisaran Utsmaniyah.
Gangguan Wahabisme
Dalam masa pemerintahan Sultan Mahmud ii, selain berhadapan dengan para pejabat korup dan pemberotakan Janissari, Sultan juga dihadapkan dengan pemberontakan aliran faham Wahabisme yang disinyalir adalah faham dari Syekh Muhammad bin Abdul Wahab di jazirah arab.
Dikatakan bahwa orang-orang dengan faham wahabisme ini memberontak karena Daulah Utsmaniyah tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, mulai dari pkatik ibadah sampak ke akidahnya.
Hal ini bisa dimengerti karena banyak sultan-sultan Utsmaniyah yang memang masuk atau tergabung dengan tarekat sufi tertentu yang mana dari segi pengamalan ibadah nya dan beberapa pendapat yang berkaitan dengan akidah nya itu bertentangan dari apa yang diamalkan dan difahami oleh kalangan Wahabisme.
Pada mulanya mereka hanya melancarkan dialog-dialog kepada para jamaah haji atau masyarakat sekitar Najd. Lalu tindakan yang paling parah adalah penyerangan dan perampasan barang-barang jamah haji yang melintasi sekitar hijaz.
Menanggapi masalah tersebut, Sultan Mahmud ii pun langsunng memerintahkan Muhammad Ali Pasha dan anaknya Ibrahim Pasha untuk menyerang para penganut faham Wahabisme ini agar tidak lagi pencelaki sesama muslim.
Muhammad Ali Pasha dan anaknya berhasil mengusir para penganut faham tersebut sampai mereka hilang karena terpencar. Pemimpin mereka Abdullah bin Saud dan keempat anak mereka dibawa ke istanbul dan eksekusi dan semua barang-barang mereka disita oleh Sultan.
Tantangan Eksternal dan Militer
Selama masa pemerintahannya, Mahmud II dihadapkan pada tantangan besar baik dari dalam maupun luar kerajaan. Salah satu tantangan terbesar datang dari negara-negara Eropa yang semakin menunjukkan kekuatan mereka dan menuntut lebih banyak pengaruh di wilayah-wilayah Kesultanan Utsmaniyah.
Pada awal masa pemerintahannya, Mahmud II harus menghadapi pertempuran dengan Rusia, yang sebelumnya telah mengalahkan Utsmaniyah dalam perang yang berlangsung sejak tahun 1807.
Perang dengan Rusia berakhir dengan Perjanjian Bucharest pada 28 Mei 1812, yang mengharuskan Kesultanan Utsmaniyah menyerahkan provinsi Bessarabia kepada Rusia. Pada tahun 1815, Serbia hampir memperoleh otonomi penuh, dan gerakan kemerdekaan Yunani mulai berkembang.
Pemberontakan Rakyat Yunani
Pada masa sebelum terjadi pemberontakan rakyat Yunani, Provinsi Epirus dikendalikan oleh Gubernur Tepedelenli Ali Pasha yang memerintah secara independen, hak ini diberikan karena jasanya dalam perang melawan Rusia. Namun semua menjadi memburuk ketika seorang nişancı (penyegel) asal Krimea bernama Halet Efendi menghasutnya untuk memberontak.
Halet Efendi sendiri adalah seseorang yang mendukung Janissari dan tidak suka kepada kebijakan-kebijakan Sultan Mahmud II yang dianggap merugikan dirinya.
Tepedelenli Ali Pasha pun terhasut oleh ajakan Halet Efendi dan akhirnya memberontak. Akhirnya terjadilah perang yang tidak bisa dihindarkan antara Tepedelenli Ali Pasha dengan pihak Sultan Mahmud II yang dipimpin oleh Hurşid Pasha.
Hurşid Pasha berhasil mengalahkan Tepedelenli Ali Pasha dan menyingkirkannya dari jabatan Gubernur. Akan tetapi karena Tepedelenli Ali Pasha sudah tidak ada Rakyat Yunani akhir memberontak.
Jika dilihat lebih ke belakang lagi, ternyata bibit-bibit pemberontakan sudah dimulai pada tahun 1768 oleh Tsarina Catherine II di Peloponnesos, walau berhasil dihentikan tetapi api pemberontakan masih belum padam, dan akhirnya terjadilah pemberontakan besar di Odessa pada tahun 1814 di bawah pimpinan Pangeran Alexander Ypsilantis. pemberontakan dimulai.
Pemberontakan ini menyerang warga sipil khususnya muslim yang sudah hidup damai berdampingan dengan warga lokal sekitar kurang lebih selama 440 tahun dibatai oleh para pemberontak. Dikatakan sekitar 50.000 muslim meninggal dalam kejadian itu. Para pemberontak pun mendeklarasikan negara Yunani di Peloponnesos.
Menanggapi hal ini, Sultan Mahmud II akhirnya mengirim anak dari Muhammad Ali Pasha yaitu Ibrahim Pasha untuk menumpas para pemberontak tersebut. Akhirnya Ibrahim Pasha berhasil meredam pemberontakan dan membawa kembali Peloponnesos sebagai bagian dari Daulah Utsmaniyah dengan dia sebagai Gubernurnya.
Ketika pemasalahn di barat dengan Yunani belum selesai, ternyata pihak Iran di timur melanggar batas teritori yang sudah ditetapkan sebelumnya. Perang terakhir antara kedua negara ini berakhir pada tahun 1823 setelah menyetujui status quo pada tahun 1823.
Pembubaran Janissari dan Perang Melawan Rusia

Menyadari tentara Janissari yang sudah tidak bisa diandalkan dalam pertempuran khususnya untuk melawan pemberontakan seperti yang terjadi di Yunani, maka Sultan merasa sangat perlu dan tidak ada pilihan tidak untuk melakukan reformasi khususnya di bidang militer.
Mula-mula Sultan melakukan pembubaran Janissari dan membentuk pasukan baru yang bernama Eşkinci Ocağı pada tahun 1825. Tentunya ini berdampak pada protes dari para Janissari itu sendiri.
Akhirnya karena belajar dari para pendahulunya dan sudah tidak ada opsi lain Sultan dengan dibantu rakyat yang sudah geram dengan tindak tanduk Janissari yang penuh dengan korupsi, nepotisme dan premanisme pun menembaki setiap barak Janissari dengan meriam.
Ribuan dari Janissari yang memberontak pun tewas, sebagian ada yang melarikan diri ke anatolia dan ada juga yang berjanji untuk taat kepada Sultan. Hari pembubaran dan pembersihan Janissari dari Daulah Utsmaniyah tepatnya pada 15 Juni 1826 pun diberinama Vaka-i Hayriyye (Peristiwa yang Baik).
Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Akibat dari dipadamkannya pemberontakan di Yunani mengakibatkan Inggris, Prancis dan Rusia tidak senang, sehingga kapal-kapal Utsmaniyah di Navarino dibakar habis, ternyata 57 kapal terbakar dan sekitar 8.000 tentara Syahid.
Memanfaatkan kerugian yang besar dalam Daulah Utsmaniyah serta tentara yang masih dalam tahap pelatihan dan pembangunan, Rusia yang dipimpin olej Tsar Nicolas I melancarkan serangan yang dengan otomatis membuat Utsmaniyah kalah
Akibatnya Utsmaniyah harus menandatangani Perjanjian Edirne ditandatangani pada tahun 1829. Sesuai dengan perjanjian ini, semua pesisir Laut Hitam bagian timur antara sungai Kuban dan Batumi diserahkan kepada Rusia; selain itu, reparasi perang yang berat harus dibayar. Dengan perjanjian ini, kemerdekaan Yunani diakui. Otonomi diberikan kepada Samos. Otonomi Serbia dan Rumania ditingkatkan.
Karena kekalahan dan keterpurukan tersebut, tanpa disangka Perancis mengambil keuntungan dengan menduduki Al-Jazair sehingga memperkuat pengaruhnya di wilayah Daulah Utsmaniyah bagian eropa.
Pemberontakan Muhammad Ali Pasha

Selain pemberontakan Yunani, penyerangan Rusia, pembakaran kapal-kapal Utsmaniyah dan lepasnya Al-Jazair. Ternyata ada lagi peristiwa yang tidak disangka-sangak, yaitu pemberontakan Muhammad Ali Pasha.
Muhammad Ali Pasha adalah seorang Gubernur Mesir yang bersama anaknya telah berjasa dalam mendamaikan berbagai pemberontakan, namun dikarenakan bisikan dari Perancis dia merasa berhak atas wilayah pemerintahan yang lebih luas.
Operasi pertama pemberontakan Muhammad Ali Pasha adalah dengan 60.000 menyerang wilayah Palestina dan berhasil mendudukinya tanpa perlawanan. Lalu Damaskus dan Aleppo, serta mengalahkan pasukan Utsmaniyah di Konya pada 1832. Keadaan semakin buruk bagi Mahmud II ketika pasukan Muhammad Ali Pasha mendekati Konstantinopel.
Sultan yang mengetahui hal ini tidak bisa tinggal diam, tetapi mengingat kesiapan militer yang masih belum mampu untuk menuju medan perang akhirnya Beliau menerima tawaran bantuan dari Rusia seraya mengatakan “Seorang yang tenggelam akan menggenggam rumput”.
Inggris dan Perancis yang mengetahui hal ini menyarankan agar Muhammad Ali Pasha menarik mundur pasukannya. Dengan konvensi Kütahya pada tahun 1833, Muhammad Ali Pasha diberikan pemerintahan atas Sidon, Tripoli, Aleppo, dan Adana, selain Mesir-Sudan dan Jeddah. Dengan demikian, seolah-olah kekaisaran dibagi antara Daulah Utsmaniyah dan dinasti Kavalalı.
Selanjutnya lagi, agar Muhammad Ali Pasha tidak memperluas Sultan meminta bantuan kepada Austria, Perancis dan Inggris akan tetapi semua menolak, kecuali satu yaitu Rusia. Akhirnya Sultan pun harus menandatangani perjanjian Hünkâr İskelesi yang berisi perjanjian damai antar Rusia dan Utsmaniyah serta Utsmaniyah harus menunutup selat Dardanelles untuk kapal-kapal perang asing jika Rusia meminta.
Akhirnya, perang dengan Ali Pasha pun pecah kembali dikarenakan Ali Pasha tidak ingin membayar pajak wajib kepada Sultan. Dari pihak Ali Pasha seperti biasa dipimpin oleh anaknya Ibrahim Pasha, dengan jumlah prajurit 80.000 orang dengan pengalaman yang kaya akan medan perang.
Sedang dari pihak Sultan Mahmud II, hanya 40.000 orang yang dipimpin oleh Hafiz Pasha yang secara keseluruhan prajuritnya masih kurang berpengalaman dan hanya bermodalkan keberanian. Ini karena masih belum sempurna prajurit yang baru dibentuk tersebut.
Pertempuran terjadi di Nizip dan dapat ditebak bahwa pasukan Ibrahim Pasha yang menang sedangkan banyak dari pasukan Hafiz Pasha yang gugur dan ini terjadi beberapa hari sebelum kematiannya.
Pengendalian Muhammad Ali Pasha akan sangat berdampak besar perkembangan sistem administrasi dan arah perpolitikan Mesir, namun selain itu ajang westernisasi Mesir dan bagaimana pola fikir western yang sekuler dan liberal berkembang disana.
Reformasi dan Kebijakan Pemerintahan

Meskipun menghadapi banyak kekalahan dan pemberontakan, Mahmud II sangat sadar akan kebutuhan untuk melakukan reformasi dalam struktur kekaisaran Utsmaniyah yang semakin rapuh.
Halil Rıfat Pasha, menantu sultan yang datang ke Istanbul dari kedutaan St. Petersburg, memberikan rangkuman inti dari kebijakan reformasi dengan kata-kata terkenal yang berbunyi “Jika kita tidak menjadi seperti Eropa, kita terpaksa mundur ke Asia.”
Salah satu langkah besar yang ia ambil adalah membubarkan pasukan Janissari yang sudah tidak efektif lagi pada tahun 1826. Pembubaran ini diikuti dengan pembantaian besar terhadap ribuan anggota Janissari yang menentang perubahan. Keputusan ini menjadi salah satu tonggak awal dari reformasi yang lebih luas di seluruh kerajaan.
Dari segi insfrastruktur, ribuan bangunan dibangun atau direnovasi. Jalan-jalan dibuka atau diperlebar, dan jembatan dibangun. Masjid Nusretiye di Tophane, Masjid Hidayet di Bahçekapı, Masjid Tevfikiye di pesisir Arnavutköy, Masjid Adliye di Üsküdar Şemsipaşa, Menara Bayezid, Jembatan Unkapanı, sebuah sekolah dasar, dan muvakkithane (tempat untuk belajar astronomi kecil yang menentukan waktu salat) di dekat Masjid Beylerbeyi adalah beberapa proyek yang dipesan oleh sultan.
Beberapa air mancur juga dibangun di berbagai lokasi. Muvakkithane Masjid Yeni yang dibangunnya pada tahun 1813 digunakan untuk menetapkan jam resmi. Ia juga membangun kembali Barak Selimiye dengan batu. Semua makam sahabat Nabi Muhammad di Istanbul, termasuk makam Eyüp Sultan, diperintahkan oleh Sultan Mahmud II untuk dibangun. Dialah yang membangun kubah hijau di atas makam Nabi Muhammad.
Sultan juga tidak ketinggalan dengan perkembangan teknologi, kapal uang dan mesin-mesin canggih yang ada di eropa dan masih tergolong penemuan baru langsung di beli. Beliau bahkan sampai menaiki kapal uang bernama Sürat ketika perjalanan ke Rhodes.
Sultan Mahmud II mendirikan sekolah-sekolah militer, medis, dan lembaga yang melatih pegawai negeri. Surat kabar pertama, Takvim-i Vekayi, diterbitkan pada masa pemerintahannya. Berbagai prosedur modern, seperti pos, karantina, sensus, dan organisasi sekolah menengah, dimulai pada periode ini.
Ia juga membentuk majelis-majelis tinggi untuk membahas masalah politik, administratif, militer, dan keuangan, termasuk Meclis-i Vala yang didirikan pada tahun 1838. Sebagian besar institusi politik klasik Utsmaniyah tetap berfungsi dengan nama baru, sementara yang tidak lagi diperlukan dihapus.
Contohnya, defterdar (pejabat tinggi yang mengurus keuangan) diubah menjadi menteri keuangan, dan reisülküttab (kepala juru tulis) menjadi menteri luar negeri.
Pada 3 Maret 1829, Sultan Mahmud II mengeluarkan sebuah peraturan baru yang mengubah cara pejabat sipil dan militer berpakaian.
Mereka diharuskan mengenakan setre (sejenis jaket), celana panjang, dan fez. Perubahan ini menunjukkan betapa besarnya inovasi yang diusungnya, meskipun setiap reformasi tetap berlandaskan pada struktur nasional dan nilai-nilai tradisional.
Sultan Mahmud II sangat berhati-hati agar reformasi ini tidak mengubah ketentuan agama dan tradisi politik yang telah lama ada. Sebagai contoh, fez, yang merupakan perkembangan dari topi merah yang telah dikenakan oleh orang Turki sejak zaman Osman Ghazi, pendiri kerajaan, tidak dapat disamakan dengan topi lainnya.
Meskipun Islam melarang persamaan dalam hal ibadah, dalam urusan adat dan kebiasaan sehari-hari, tidak ada larangan untuk beradaptasi dengan pengaruh non-Muslim.
Di tengah perubahan tersebut, Sultan Mahmud II juga mengambil langkah kontroversial dengan menutup gambarnya di kantor-kantor pemerintahan dengan kain yang digantung. Tujuannya adalah untuk mengurangi kekakuan dan resistensi birokrat, namun praktik ini hanya bertahan sebentar.
Ketidaknyamanan yang dirasakan oleh para Janissari juga memicu penghapusan orkestra militer Utsmaniyah, Mehter, yang digantikan oleh orkestra militer baru bernama Mızıka-ı Hümayun.
Sistem yang didirikan oleh Sultan Mahmud II ini tetap bertahan dalam formatnya hingga hari ini, dan sebagian besar lembaga yang ada di Turki saat ini memiliki akar yang dalam dalam sistem Utsmaniyah, terutama pada masa pemerintahannya.
Dari sini dapat dilihat bahwa perubahan yang terjadi bukan karena ingin mengikuti gaya barat atau eropa atau karena agama sebagai hambatan.
Tetapi jauh sebelum itu, perubahan yang terjadi dalam masalah Daulah Utsmaniyah sudah diakibatkan oleh penyakit yang berlangsung sekian lama, yaitu kekalahan dalam perang yang terus menerus serta melemah dan korupnya para tentara Janissari dan masih banyak lagi penyakit yang ada di dalam Daulah Utsmaniyah.
Dari penjelasan di atas pun juga bisa kita sadari bahwa yang berubah adalah struktur sistematisasi pemerintahannya, bukan dasar pemerintahan yang seperti dikatakan sejarawan bahwa proses reformasi di masa Sultan Mahmud II adalah ingin mengesampingkan islam dan syariah dari wilayah pemerintahan.
Sisi Lain Kehidupan Sultan Mahmud II
Dalam memoirnya, penasihat Jerman Helmuth von Moltke menggambarkan betapa dalamnya perasaan religius Sultan Mahmud II. Ia mengungkapkan bahwa keyakinan agama Sultan Mahmud begitu kuat, hingga ketika ia hampir meninggal, ia tetap dibawa ke Masjid Bayezid untuk menunaikan salat Jumat. Ini adalah bukti nyata betapa besar keseriusannya dalam menjalankan ibadah, meskipun dalam kondisi yang sangat lemah.
Dua tahun sebelum wafatnya, Sultan Mahmud mengeluarkan sebuah dekrit yang mewajibkan pelaksanaan salat lima waktu secara berjamaah di seluruh wilayah Kekaisaran Utsmaniyah. Tak hanya itu, ia juga memerintahkan agar kitab ajaran Islam, Dürr-i Yekta yang ditulis oleh Esad Efendi, disebarkan ke seluruh kota, desa, dan kampung di Utsmaniyah. Melalui kebijakan ini, pendidikan dasar pun diwajibkan bagi setiap warga negara Utsmaniyah.
Di lingkungan militer, Sultan Mahmud sangat memperhatikan aspek agama. Di barak-barak, ia menunjuk imam untuk memimpin salat berjamaah dan mufti untuk membantu menyelesaikan masalah keagamaan. Ia juga memerintahkan agar al-Siyar al-Kabir, karya Imam Muhammad yang membahas hukum perang dalam mazhab Hanafi, diterjemahkan ke dalam bahasa Turki dan dibaca di barak-barak.
Abdülhak Molla, seorang dokter kepala, pernah bercerita bahwa Sultan Mahmud menghabiskan banyak waktu di masjid-masjid seperti Masjid Eyüp, Masjid Davud Pasha, dan Masjid Topçular, terutama saat berada di Barak Rami. Di sana, ia banyak menghabiskan waktu untuk berdzikir, berdoa, dan berbincang tentang agama.
Sebelumnya, Sultan Mahmud adalah anggota Ordo Mevlevi di bawah pengaruh pamannya, Sultan Selim III. Kemudian, ia beralih ke mazhab Naqshbandi dan menjadi murid Mehmed Nuri Efendi, seorang sheikh dari penginapan Yahya Efendi.
Sultan Mahmud juga dikenal karena toleransi Islamnya yang luar biasa. Ia pernah berkata, “Saya ingin mengenal Muslim dari rakyat saya hanya di masjid, orang Kristen di gereja, dan orang Yahudi di sinagoga. Tidak ada perbedaan lain antara mereka sama sekali. Cinta dan keadilan saya kuat untuk semuanya dan mereka semua adalah anak-anak saya yang sejati.” Kata-kata ini mencerminkan sikapnya yang inklusif terhadap semua pemeluk agama.
Namun, ada satu kejadian yang cukup menggemparkan. Pada tahun 1837, saat sedang menuju Masjid untuk salat Jumat, Sultan Mahmud disapa oleh seorang pria gila yang berdiri di depan kudanya di Jembatan Galata.
Orang tersebut memanggil Sultan Mahmud sebagai “sultan kafir” karena menutup penginapan Bektashi. Sejarawan Prancis, Jean-Henri-Abdolonyme Ubicini, yang pertama kali melaporkan kejadian tersebut, mengungkapkan bahwa orang gila ini berasal dari mazhab Bektashi.
Pandangan Orang-Orang Terhadap Sultan Mahmud II
Selain kecerdasannya dalam politik, Sultan Mahmud juga dikenal sebagai seorang kaligrafer ulung. Prasasti di cenotaph Eyüp Sultan dan papan besar di Hagia Sophia merupakan beberapa contoh karyanya yang memukau. Dengan nama pena “Adli,” ia menulis puisi yang banyak di antaranya masih bertahan hingga hari ini.
Tidak hanya berbakat dalam seni, Sultan Mahmud juga merupakan sultan pertama yang mempelajari bahasa Prancis, dan ia melakukan perjalanan ke banyak provinsi, termasuk Gelibolu, Bolayır, dan Rhodes. Orang-orang yang bertemu dengannya menggambarkan Sultan Mahmud sebagai sosok yang tinggi, tampan, dan penuh energi.
Alphonse de Lamartine, seorang penulis terkenal, juga memberikan pujian terhadap Sultan Mahmud. Ia berkata, “Bencana yang dihadapinya sudah cukup untuk menghancurkan setidaknya sepuluh penguasa reformis. Namun hanya tubuhnya yang menyerah, jiwanya tidak pernah menyerah.”
Lamartine menambahkan bahwa hanya generasi mendatang yang akan benar-benar memahami beban yang dipikul sang sultan. Dalam perjalanan panjangnya, Sultan Mahmud tidak selalu menemukan orang yang tepat untuk mendukung visinya.
Setelah berbagai kegagalan, ia akhirnya memutuskan untuk menjadi vizier-nya sendiri, menanggung semua keluhan dan kebencian publik sendirian, meskipun ia tetap berusaha membangun sebuah lingkungan yang berbasis pada kepercayaan dan persahabatan.
Sultan Mahmud menghadapi banyak tantangan berat di zamannya. Keberanian dan tekadnya dalam menghadapinya sangat dihargai, namun ada pula yang melihat kekurangannya, terutama dalam hal reformasi.
Cevdet Pasha, misalnya, menghargai cara Sultan Mahmud mengelola kesulitan, namun ia juga menyoroti ketidakmampuan sang sultan dalam hal perubahan mendalam. Helmuth von Moltke, yang lebih senior, memberikan pembelaan terhadap Sultan Mahmud. “Mudah untuk menghancurkan, tetapi sulit untuk membangun,” katanya, menyiratkan bahwa reformasi yang sebenarnya bukanlah hal yang bisa dicapai dengan mudah.
Edouard-Philippe Engelhardt berpendapat bahwa reformasi Sultan Mahmud hanya terlihat di permukaan, dan banyak rakyat yang tidak puas, karena sang sultan tampaknya meninggalkan kebiasaan serta sikap yang sudah lama dihormati dan diharapkan oleh masyarakat.
Laksamana Edmond Slade yang juga berperan sebagai konsultan angkatan laut Utsmaniyah, berpendapat bahwa Sultan Mahmud memulai reformasi dari tempat yang salah, mencoba terlalu banyak hal sekaligus tanpa fokus yang jelas.
Untuk karakter atau sikap dari Sultan Mahmud II ada salah satu momen yang menggambarkan karakter beliau ketika ia sedang dalam perjalanan ke Bulgaria bersama Moltke.
Helmuth von Moltke mengenang saat mereka sedang bepergian dengan kereta, ketika Sultan Mahmud melihat seorang wanita mengulurkan selembar kertas dengan ujung tongkat.
Tanpa ragu, sang sultan menghentikan kereta dan mengambil kertas itu. “Tak seorang pun bisa percaya,” kata Moltke, “Bahwa orang yang memperlakukan orang-orang di sekitarnya dengan kebaikan dan kerendahan hati ini adalah orang yang sama yang membunuh ribuan Janissari.”
:max_bytes(150000):strip_icc()/helmuth-von-moltke-large-56a61b515f9b58b7d0dff1f5.jpg)
Dapat kita katakan bahwa beliau memberikan dua sikap yang berbeda jika berhubungan dalam masalah kenegaraan dan politik serta dalam masalah pribadi.
Walaupun menghadapi banyak tantangan, Sultan Mahmud berusaha keras mencegah pembubaran kekaisaran dengan langkah-langkah tegas.
Ia memperkenalkan berbagai reformasi di hampir setiap aspek kehidupan kerajaan. Tentu saja, tindakan ini memicu reaksi keras dari beberapa kelompok, terutama yang tidak memahami atau tidak setuju dengan perubahan tersebut.
Namun, bagi mereka yang berpikir dengan jernih, jasa Sultan Mahmud dikenang dengan rasa terima kasih, bahkan di kalangan sumber-sumber Barat.
Pada akhirnya, Sultan Mahmud menyadari bahwa stabilitas negara hanya bisa dicapai dengan langkah-langkah drastis. Ia memusatkan kekuasaan di tangannya, menekan birokrat, tentara, dan ulama yang sebelumnya memainkan peran gelap di dalam kerajaan.
Meskipun banyak yang mengkritik kebijakan otoriternya, upaya ini terbukti berhasil dalam menyelamatkan negara dari kehancuran. Setidaknya, sang sultan memberikan arah yang jelas, yang kemudian diikuti oleh penerusnya, Sultan Abdülhamid II, setelah Perang Utsmaniyah-Rusia 1877.
Menapaki Pemerintahan Sultan Mahmud II
Dari penjelasan yang paling awal, kita sudah bisa mengetahui bahwa masa-masa Sultan Mahmud II adalah masa di mana konflik internal dan eksternal amat terjadi dan amat berdekatan.
Satu konflik dengan konflik lain terus berdatangan beriringan seakan tidak ada jeda. Hal ini yang membuat perhatian perbaikan atau reformasi sistem biokrasi yang ingin dilakukan oleh Sultan Mahmud II sangat terhambat.
Belum lagi orang-orang disekelilingnya yang sudah terasuki kecintaan pada dunia dan harta sehingga tidak jarang mereka melakukan aksi korupsi dan nepotisme.
Belum lagi pemberontakan yang dilakukan oleh Muhammad Ali Pasha dan anaknya Ibrahim Pasha yang mungkin hanya merekalah yang bisa diandalkan saat masa Sultan Mahmud II berkuasa dalam urusan keamanan dan kemiliteran.
Namun siapa sangka, orang yang paling bisa dipercaya dan diandalkan ternyata malah menggigit beliau dengan taring tuntutan peluasan wilayah dan pemberontakan. Belum lagi Perancis bermain juga di belakang itu semua.
Maka sangat perlu kita sadari bahwa beban yang ditanggung oleh Sultan Mahmud II bukanlah beban yang mudah dan hanya kita lihat dari kekalahan-kekalahan beliau semata.
Belum lagi keinginan Sultan untuk mereformasi, hal ini perlu kita tegaskan bahwa itu bukan tanda beliau ingin mengganti hukum Islam dengan hukum barat. Tetapi lebih kepada sistem biokrasi dan beberapa budaya yang sifatnya adalah masalah duniawi, dimana hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan fundamental agama islam.
Tetapi perlu ditinjau juga, kurang suksesnya beliau dalam reformasi juga tidak dapat dipungkiri bahwa Daulah Utsmaniyah seperti tidak memiliki rule model yang jelas sebagai contoh acuan bagaimana reformasi seharusnya berjalan.
Wafatnya Sultan Mahmud II
Ketika Daulah Utsmaniyah mengalami kekalahan dalam peperangan Nipiz melawan tentara Muhammad Ali Pasha dalam perang melawan Mesir dan dalam menghadapi pemberontakan yang terus-menerus mengancam kestabilan Daulah.
Sultan Mahmud II yang sudah lama mengalami penyakit tuberculosis, beliau meninggal tuberculosis beliau meninggal pada 1 juni 1839Meskipun banyak tantangan yang dihadapinya, Mahmud II berhasil membawa perubahan signifikan yang memodernisasi banyak aspek pemerintahan dan militer Kesultanan Utsmaniyah.
Reformasi-reformasi yang dilakukan oleh Mahmud II tidak hanya mengubah struktur kekaisaran Utsmaniyah tetapi juga memberikan landasan bagi pemimpin-pemimpin berikutnya untuk melanjutkan upaya-upaya modernisasi.
Pembaruan yang dilakukan Mahmud II dalam bidang militer, administrasi, pendidikan, dan kebudayaan membantu Kesultanan Utsmaniyah bertahan meskipun menghadapi perpecahan internal dan tekanan eksternal.
Warisan reformasi Mahmud II tetap menjadi bagian penting dalam sejarah Kekaisaran Utsmaniyah, yang pada akhirnya berujung pada perubahan lebih besar di abad ke-19 dan awal abad ke-20.









